Masjid Raya di Sulawesi Selatan Dengan 99 Kubah Jadi Destinasi Wisata Religi Baru

Masyarakat Makassar patut berbangga karena memiliki salah satu masjid raya di Sulawesi Selatan yang akan menjadi destinasi wisata religi baru di Indonesia. Masjid raya Sulawesi Selatan ini sudah memasuki tahap akhir proses pembangunannya. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 2017 dan dijadwalkan rampung awal tahun 2019 ini.

Apa yang membuat masjid raya ini menarik salah satunya karena memiliki arsitektur unik dengan 99 buah kubah di bagian atapnya. Bahkan keunikan ini juga membuatnya disebut sebagai Masjid 99 Kubah. Saat ini, bangunan tersebut sudah menjadi objek foto menarik bagi sebagian besar warga sekitar.

Perkembangan Terkini Pembangunan Masjid Raya 99 Kubah

Masjid Raya Sulawesi Selatan ini berlokasi di area Center Point of Indonesia (CPI) Makassar yang merupakan kawasan reklamasi. Terlihat pekerja bangunan masih mengerjakan bagian atap sejumlah kubah yang masih belum rampung hingga penghujung 2018 yang lalu.

Sementara di bagian pelataran, kompleks masjid raya ini juga sepertinya belum selesai. Catatan ini pun dilihat berdasar pemantauan jarak jauh karena adanya larangan bagi orang yang tidak berkepentingan untuk mendekati area proyek.

Apabila dilihat dari kejauhan, tepatnya dari lokasi anjungan Pantai Losari, maka Anda bisa menyaksikan corak oranye dan cokelat yang mendominasi bagian kubah masjid tersebut. Bangunan ini seakan berusaha merebut posisinya sendiri dari keindahan pantai di baliknya.

Apabila dilihat dari pencapaian proses pembangunan saat ini, besar kemungkinan target penyelesaian proyek akan tercapai tepat waktu. Selain eksterior yang hampir finish, bagian dalam juga sudah dikonfirmasi selesai pembangunannya. Pembangunan akan dilanjut dengan membuat tower masjid dan finishing 17 kubah yang tersisa serta pembuatan lantai untuk pelataran.

Masjid yang dibangun dengan dimensi 72 x 45 meter ini dibiayai menggunakan dana sebesar Rp 170 miliar yang bersumber dari APBD pemerintah Sulawesi Selatan. Dalam proses pembangunan tersebut, sempat terdengar isu tentang kekurangan biaya yang setelah ditelusuri adalah kesalahpahaman terkait tahapan pengalokasian dana.

www.pexels.com

Ridwan Kamil, Arsitek Masjid Raya 99 Kubah

Meskipun juga ada campur tangan oleh arsitek lain, masjid raya ini dibangun berdasar gambaran arsitek utamanya, Ridwan Kamil yang masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Ide pembangunannya sendiri berasal dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Nama Ridwan Kamil sendiri juga sudah lama diketahui mengarsiteki sejumlah masjid-masjid unik di Tanah Air.

Untuk masjid raya 99 kubah sendiri diharapkan bisa menjadi masjid terbesar di Sulawesi, paling unik di Indonesia dan masuk dalam daftar 30 masjid paling unik di dunia. Ridwan Kamil sendiri mengaku membuat masjid ini terinspirasi dari Asmaul Husna yang kemudian diransformasi menjadi 99 buah kubah. Bahkan masing-masing kubah juga akan diberi label sesuai dengan 99 Asmaul Husna baik di bagian eksterior dan interiornya.

Melalui media sosialnya, sang arsitek mengucap syukur karena proses pembangunan sudah hampir selesai sambil mengirim salam hangat bagi masyarakat Sulawesi Selatan dari warga Jawa Barat. Ia juga mendoakan agar pembangunan dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal.

Dalam akun medsos, gubernur Jabar tersebut sempat mengunggah gambar awal dari pembangunan masjid 99 kubah di atas kertas tertanggal Juni 2016 dan terdapat tandatangan Ridwan dan singkatan ‘RK’ yang menegaskan bahwa arsitektur tersebut adalah karyanya.

www.pexels.com

Hal Menarik dari Masjid Raya 99 Kubah

Konsep Water Front

Kepala Dinas Sumber Daya Alam, Cipta Karya dan Tata Ruang Sulsel, Andi Darmawan Bintang menyebut bahwa masjid ini menawarkan konsep Water Front dan wisata religius. Konsep Water Front sendiri akan membuat masjid ini seakan mengambang di atas air. Tentu saja jika dilihat dari jarak yang cukup.

Atraksi Air Mancur

Kawasan CPI di Makassar tersebut juga memiliki air mancur menari yang menjadi hiburan baru yang tak kalah megah dibanding air mancur di Jawa. Atraksi air mancur ini terletak di depan Masjid 99 Kubah dan mulai beroperasi sejak bulan April 2018 yang lalu.

Rencananya, air mancur ini akan dioperasikan setiap hari selama 30 menit yaitu selepas shalat magrib sampai jelang isya. Para jamaah pun bisa menikmati keindahan air mancur sambil menunggu waktu shalat. Namun untuk saat ini, air mancur hanya dioperasikan sepekan sekali saja.

Air mancur ini tercatat sebagai air mancur pertama yang berukuran besar di luar Jawa. Ia juga tercatat menjadi air mancur terpanjang yang kedua jika dihitung lurus menyusul rekor air mancur Sri Baduga Purwakarta.

Air mancur ini mempunyai ukuran kolam sepanjang 98 meter, lebar 7 meter, dan tinggi 1 meter. Ia juga menggunakan sejumlah 213 nozzle yang bisa menyemprotkan air hingga ketinggian 17 meter yang digerakkan 80 pompa. Uniknya lagi, setiap nozzle penyemprot tersebut dilengkapi pencahayaan masing-masing dengan variasi 7 warna.

Semprotan air mengikuti irama musik yang terkomputerisasi sehingga terkesan sedang menari. Gerakan air berdasar pada irama musik yang diperdengarkan, mirip dengan atraksi air mancur yang Anda lihat di Dubai namun berbentuk memanjang.

Sunset Pantai Losari

Salah satu keindahan alam yang paling terkenal di wilayah Makassar adalah keindahan Pantai Losari. Saking terkenalnya, lokasi ini bahkan disebut sebagai ikon kota Makassar. Banyak wisatawan yang sengaja datang demi menyaksikan keindahan sunset dari pantai Losari.

Ketika hari menjelang maghrib, jamaah yang berdatangan ke lokasi masjid 99 kubah akan merasakan keagungan Tuhan dari pemandangan matahari tenggelam pantai Losari yang terkenal tersebut. Belum lagi ketika fisik masjid yang dikatakan mirip candi tersebut menjadi siluet di balikĀ  senja.

Darmawan juga menyebut bahwa masjid raya 99 kubah ini akan menghadirkan penampilan sakral, monumental, unik dan berkarakter. Dan wajar saja jika masjid ini digadang-gadang sebagai calon destinasi religi baru yang sangat menarik di tengah-tengah Indonesia (CPI).

Sayangnya, ada beberapa orang yang berpendapat bahwa masjid ini dibangun di atas kawasan reklamasi yang dianggap dapat merusak lingkungan. Ada pula yang menganggap bahwa pembangunan masjid tersebut sedikit mencederai keindahan sunset di pantai Losari karena terhalang oleh besarnya bangunan.

www.pexels.com

Tak Sekedar Masjid, Namun Bangunan Multifungsi

Darmawan menjelaskan bahwa masjid raya ini dirancang sebagai bangunan multifungsi yang tak hanya digunakan semata-mata untuk melaksanakan kegiatan shalat. Masjid ini memang ditujukan sebagai pusat kegiatan syiar Islam dan destinasi wisata religi. Ketika menyimak rancang bangunannya, sepertinya memang demikian.

Ruang ibadah indoor yang terletak di lantai 1 dapat menampung 4.000 jamaah pria. Apabila kapasitas tersebut kurang, maka masih ada area luapan jamaah di pelataran yang juga suci (jamaah harus melepas alas kaki) dengan kapasitas hingga 10.000 orang. Pelataran tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menunggu waktu shalat. Tak menutup pula kemungkinan untuk digunakan berbagai kegiatan positif lainnya karena juga tersedia pusat Islamic Book dan busana Muslim.

Sementara pada bagian lantai dasar semi basement, terdapat tempat wudlu, toilet, kantor, ruang pertemuan hingga tempat untuk berjualan. Selain itu ada pula galeri Asmaul Husna yang juga menarik untuk dikunjungi sehingga dapat menambah wawasan. Di lantai 2 (Mezzanie) dapat menampung 1.000 jamaah wanita dan digunakan sebagai tempat untuk menikmati keindahan water front.

Dirancang agar Ramah Lingkungan

Masjid raya di Sulawesi Selatan ini tidak seperti masjid besar lain pada umumnya yang menggunakan AC (Air Conditioner) untuk menjaga kenyamanan jamaah di dalam masjid. Pengoptimalan sirkulasi udara dapat menghadirkan kesejukan alami di dalam masjid. Sehingga bisa dikatakan bahwa masjid ini lebih ramah lingkungan sekaligus hemat energi.

Sementara bahan yang dipakai untuk bangunan tersebut berjenis low maintenance dan diklaim tidak akan membutuhkan biaya perawatan yang tinggi setelah jadi kelak. Tingginya biaya perawatan dan operasional bangunan megah seringkali menjadi pertimbangan utama pihak pengelola. Tidak demikian dengan masjid 99 Kubah ini.

Masjid ini juga lebih ramah lingkungan melalui konsep hemat energi untuk kebutuhan pencahayaan masjid. Memanfaatkan penghawaan alam di atas serta mengoptimalkan pencahayaan alami yang bersumber dari cahaya matahari, masjid ini menjadi lebih hemat energi karena listrik hanya digunakan untuk lampu ke bidang plafon saja.

Untuk mengoperasikan berbagai peralatan listrik, seperti pengeras suara misalnya, energi yang didapat berasal dari aliran listrik PLN. Sementara untuk kebutuhan darurat, pengelola memiliki perangkat genset silent yang sanggup menghidupi hingga setengah kebutuhan listrik masjid raya tersebut.

PDAM Makassar menjadi pemasok air memanfaatkan groundtank serta rooftank pada sistem distribusi air ke toilet, tempat wudlu dan tempat-tempat lain yang menggunakan air. Sementara untuk pengolahan air kotor baik dari wudhu,urinoir, toilet hingga dapur dialirkan langsung keIPAL. Namun untuk air hujan, air dialirkan menuju saluran utama kawasan CPI yang mengarah ke laut.

Menggunakan Produk Lokal

Dominan warna yang dimunculkan pada bangunan masjid ini adalah warna khas tanah liat dimana warna tersebut muncul dari bahan beton ringan yang difabrikasi secara khusus dengan motif batu bata khas yang memiliki warna asli tanah liat. Struktur utama bangunan masjid menggunakan beton hingga bagian lantai fungsional. Pada bagian atas, struktur konstruksi menggunakan bahan baja berat serta pipa gip (stainless steel).

Untuk bagian lantai, masjid ini memilih material setempat yang sudah diakui kualitasnya hingga ke luar negeri. Diantaranya adalah marmer serta keramik dari daerah Maros. Pemilihan material ini juga beralasan untuk menambah nilai kearifan lokal pada masjid kebanggaan warga Makassar tersebut.

Sementara sebagai alas penutup lantai tersebut, kemungkinan besar akan menggunakan karpet untuk meningkatkan keindahan interior serta kenyamanan jamaah di dalam masjid. Bisa saja pengelola mencari jasa kepada pihak yang jual karpet masjid Jakarta untuk mendapatkan produk yang paling sesuai dengan desain masjid.

Berada di Pilar Nasional

Penggagas pembangunan masjid raya yang juga Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa keberadaan masjid 99 Kubah dan Wisma Negara merupakan ikon sekaligus landmark baru yang berada di Kota Makassar. Pembangunan kedua bangunan penting di titik pusat Indonesia ini disebutnya sebagai bagian dari bukti bahwa Makassar semakin maju dan menjadi pilar nasional.

Apabila Anda bersama keluarga, jamaah anggota pengajian atau rekan-rekan kantor memiliki rencana untuk mengadakan wisata religi bersama ke Kawasan Timur Indonesia, maka masjid raya 99 Kubah ini layak untuk dimasukkan dalam agenda tujuan Anda. Namun sebaiknya tetap menunggu hingga proses pembangunan benar-benar selesai 100% terlebih dahulu sebelum mengagendakan perjalanan wisata rohani.

www.pexels.com

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *