Pertumbuhan dan Perkembangan Agama Islam di Bekasi

Bekasi Raya merupakan salah satu wilayah metropolitan yang digemari oleh masyarakat Jawa sebagai tempat untuk merantau dan mencari lapangan pekerjaan. Kota/ Kabupaten Bekasi yang kita kenal sekarang ini telah menjadi kota industri yang sangat maju. Hal ini tidak menampik kemungkinan masyarakat yang memiliki pola pikir maju juga.

Meskipun demikian, masyarakat Bekasi tetap memegang teguh agamanya dalam berkegiatan sehari-hari, terutama masyarakat beragama Islam . Hal ini dapat dilihat dari cara berpakaian mayoritas wanita beragama Islam di Bekasi yang sekarang menggunakan hijab. Selain itu, dapat dilihat juga dari meningkatknya jumlah rumah ibadah umat Islam di Bekasi. Data kemenag pada tahun 2019 menyebutkan bahwa jumlah masjid di Kota Bekasi saat ini adalah sekitar 600, sementara di Kabupaten Bekasi terdapat sekitar 1000 masjid.

Banyaknya jumlah jiwa yang beragama Islam di Bekasi ini sebenarnya tidak luput dari peran para pahlawan dan tokoh-tokoh Muslim yang membawa agama Islam ke Bekasi pada masa lampau.

Sejarah Masuknya Islam di Bekasi

Bekasi di masa lampau merupakan salah satu pelabuhan internasional yang digunakan sebagai tempat perdagangan antar negara. Kondisi ini membuat masyarakat Bekasi terdiri yang terdiri dari banyak golongan, ras, suku, dan bangsa pun tidak terelakkan dari berinteraksi dengan masyarakat luar, tidak terkecuali masuknya tokoh-tokoh besar umat Islam di Bekasi.

pixabay.com

Pada saat itu, sekitar abad pertama Hijriah atau abad ke-7 Masehi agama Islam yang dibawa oleh bangsa Arab mulai masuk ke Pulau Jawa, termasuk pelabuhan di Bekasi. Bertahun-tahun bangsa Arab tinggal di tanah Jawa, membangun pemukiman dan beribadah, namun masyarakat pribumi masih belum memeluk agama Islam.

Kala itu, Bekasi dipimpin oleh seorang raja bernama Sriwijaya Sri Indrawarman. Beliau mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk memberi pencerahan mengenai agama Islam kepada rakyatnya. Hal ini disambut baik oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Atas pencerahan yang diberikan oleh beliau, perlahan tapi pasti, masyarakat Bekasi mulai sedikit demi sedikit mulai meyakini agama Islam. Inilah awal mula masuknya agama Islam di Bekasi.

Proses keislaman masyarakat Bekasi ini diperkuat oleh kedatangan para ulama yang disebut Wali Songo pada awal abad 15. Penyebaran agama Islam di Bekasi dilanjutkan oleh keluarga besar Kesultanan Banten, yang dimulai sejak Fatahillah menguasai Sunda Kelapa pada tahun 1527, dan diteruskan turun temurun oleh keturunan kesultanan Banten.

Pada tahun 1890, dibangunlah masjid agung bernama Masjid Agung Al Barkah di tanah wakaf Haji Barun di pusat kota Bekasi, seluas 3000m2. Akibat pembangunan masjid pertama tersebut kemudian muncul masjid-masjid lain yang membuat perkembangan dan pertumbuhan agama Islam di Bekasi menjadi sangat pesat sampai sekarang.

pixabay.com

Pendidikan agama Islam di Bekasi

Seperti yang dapat kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam di Bekasi hidup dengan sangat damai tanpa tekanan dari pihak lain. Bahkan sampai saat ini, masjid-masjid di Bekasi mampu berkembang dengan sangat pesat, begitu pun mushola dan sekolah-sekolah yang berbasis agama Islam.

Dalam hal ini, terbukti bahwa mulai maraknya sekolah berbasis Islam yang menjadi sekolah unggulan di Bekasi, seperti halnya sekolah Al-Azhar, sekolah ini memiliki akreditasi yang sangat baik dan memiliki kurikulum berbasis Islam. Sekolah ini bahkan bisa dibilang merupakan pioneer sekolah berbasis agama Islam terbesar di Indonesia karena memiliki banyak cabang. Sekolah ini terdiri dari beberapa tingkatan, yakni TK, SD, SMP, SMA serta SMK.

Selain Al Azhar, di Bekasi juga terdapat sekolah-sekolah berbasis agama Islam lain yang dinaungi oleh yayasan Teratai Putih Global. Sekolah-sekolah yang dinaungi oleh yayasan ini, mengimplementasikan pendidikan modern berbasis agama Islam. Seperti halnya Al-Azhar, sekolah ini juga memiliki tingkatan dari TK sampai dengan SMA pun SMK.

pixabay.com

Fasilitas yang dimiliki oleh sekolah-sekolah Islam di Bekasi,   biasanya sama saja dengan sekolah lainnya. Hal yang membedakan sekolah islam dengan sekolah lain pada umumnya adalah jam belajarnya yang bersistem one stop schooling, yakni sarana dan prasarana yang digunakan memiliki pengaruh yang besar pada efektifitas proses belajar. Seperti halnya diadakannya solat jamaah di masjid sekolah, pembacaan ayat suci Al Qur’an sebelum dan sesudah belajar, bahkan penghafalan dan setoran hafalan Al Qur’an oleh siswa kepada guru. Guru yang mengajar di sekolah Islam pun biasanya memiliki basic menghafal Al Qur’an.

Selain sekolah, pendidikan agama Islam di Bekasi juga didukung oleh banyaknya pondok pesantren yang ada. Baik untuk masyarakat menengah ke atas, maupun masyarakat menengah ke bawah. Pemerintah Bekasi sendiri bahkan membantu terbentuknya gerakan dari Kita Bisa untuk membangun pesantren Tahfidz gratis untuk anak yatim piatu di Bekasi. Hal ini tentunya memudahkan masyarakat yang ingin belajar di pondok pesantren namun terhalang oleh biaya. Pengaruh banyaknya sekolah dan pondok pesantren di Bekasi juga dinilai mampu membantu perekonomian para pedagang perlengkapan masjid, pedagang alat kebersihan, pedagang alat solat dan Al Qur’an, serta pedagang yang jual karpet masjid Bekasi.

 

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *