Mengenal Proses Pengolahan Kopi Toraja

Kopi adalah salah satu minuman yang menjadi kegemaran banyak orang. Bahkan bagi sebagian orang tak lengkap rasanya jika memulai hari tanpa menyeruput kopi terlebih dahulu. Hal itu membuat kopi mudah ditemukan, mulai dari kedai-kedai kecil pinggir jalan hingga cafe, restoran, dan coffee shop yang kini sangat banyak bertebaran.

Kopi yang dijual di tempat-tempat tersebut juga beragam. Mulai dari kopi sachet siap seduh hingga kopi manual brewing. Harga kopi sachet memang lebih murah. Serbuk kopi yang ada di dalamnya memang bukan murni hasil gilingan kopi, ada berbagai bahan yang telah dicampurkan sehingga harganya lebih murah. Sementara segelas kecil espresso manual brew bisa berharga 5 ribu hingga 10 ribu rupiah. Jika telah diolah menjadi macam-macam menu kopi harganya bisa meningkat berkali-kali lipat.

Menu olahan kopi juga sangat beragam. Mulai dari yang memiliki cita rasa pahit masam khas kopi, hingga yang sudah dicampur dengan susu dan berbagai bahan lain hingga rasa pahitnya tak terlalu kentara. Kini bahkan ada kopi durian. Kopi ini memiliki aroma yang sangat khas, perpaduan antara aroma kopi dengan aroma tajam durian. Rasa kopi durian tentu juga tak jauh-jauh dari manis legitnya durian.

www.pexels.com

Tahapan Pemrosesan Biji Kopi

Proses untuk menghasilkan sebuah kopi tidaklah mudah. Ada banyak tahapan proses yang harus dilalui sebelum segelas kopi bisa disajikan ke hadapan Anda. Berikut adalah tahapan-tahapannya:

  1. Panen

Pertama-tama, para petani kopi akan memanen kopi dari pohon-pohon yang telah mereka rawat selama ini. Masing-masing jenis kopi memiliki masa panen yang berbeda. Namun rata-rata membutuhkan waktu 6 hingga 11 bulan. Biji kopi yang siap dipanen adalah biji kopi yang seluruh permukaan kulitnya sudah berwarna kemerahan.

Biji kopi yang memiliki warna kemerahan ini tengah berada dalam kondisi yang paling baik untuk dipetik. Kematangannya pas dan aromanya kuat. Hindari menunggu memetik biji kopi hingga warna merahnya berubah jadi tua. Jika sudah terlalu tua dikhawatirkan aromanya akan menghilang.

  1. Penyortiran

Tidak semua biji kopi yang dipanen memiliki kualitas yang sama. Bahkan selalu ada kemungkinan ditemukannya biji kopi yang rusak dan harus disisihkan. Penyortiran kopi ini biasanya dilakukan secara manual. Petani memilah satu per satu biji yang rusak dan harus dibuang.

Setelah disortir, biji kopi yang berkualitas baik perlu disimpan dengan penyimpanan yang tepat. Salah satu kriteria penyimpanan yang tepat adalah menyimpan kopi di dalam suhu ruang. Kopi yang sudah melewati proses penyortiran juga sebaiknya segera diproses. Membiarkan kopi terlalu lama tanpa diproses bisa memicu reaksi kimia tertentu. Reaksi kimia tersebut dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas biji kopi.

www.pexels.com

  1. Pencucian

Setelah biji kopi selesai disortir, tahap pemroresan selanjutnya adalah pencucian. Biji kopi disimpan di dalam wadah berukuran besar dan kemudian disiram menggunakan air. Setelah itu biji kopi dicuci dengan tujuan melepaskan kulit dan daging buah yang masih melekat di biji.

Proses pencucian terdiri dari 2 jenis, yakni full washed dan semi washed. Proses full washed menggunakan air dan memakan waktu selama kurang lebih 12 jam. Pengupasan biji kopi bisa dilakukan secara manual menggunakan tangan maupun menggunakan mesin. Sementara semi washed hanya memisahkan kulit dan tetap menyisakan daging atau lapisan getah.

Setelah dicuci, biji kopi kemudian dijemur. Lamanya proses penjemuran disesuaikan dengan banyaknya kadar air yang inigin diturunkan. Pada proses pencucian semi washed, misalnya, kadar air yang diturunkan hanya berkisar antara 30% sampai 35%.

  1. Roasting

Proses pencucian dan pengeringan akan menghasilkan biji kopi siap roasting yang biasa disebut dengan green beans. Green beans inilah yang kemudian siap untuk diroasting. Proses roasting terdiri dari:

  • Drying

Ternyata sekalipun sudah dijemur, rata-rata biji kopi masih mengandung kadar air rata-rata sebesar 7% sampai 11%. Tahap roasting paling pertama dimaksudkan untuk benar-benar menghilangkan kadar air itu. Biji kopi harus benar-benar terbebas dari kadar air karena biji yang masih mengandung air tidak akan bisa berubah warna menjadi coklat.

www.pexels.com

  • Light Roast

Fase light roast pada proses roasting ditandai dengan mengelupasnya kulit biji kopi yang paling luar. Light roast biasanya menggunakan suhu antara 180 derajat hingga 205 derajat cesius. Biji kopi yang dihasilkan dari proses ini akan berwarna kuning kecokletan serta terasa kering ketika disentuh.

Biji kopi dari fase light roast ini memiliki karakter rasa yang ringan. Rasa asamnya juga cenderung kuat. Selain itu, biji kopi dari fase light roas masih memiliki kandungan kafein yang cukup tinggi.

  • Medium Roast

Ketika memasuki suhu antara 210 derajat hingga 240 derajat celsius maka proses roasting sudah memasuki tahap medium roast. Pada tahap ini, warna biji kopi akan berubah menjadi lebih coklat dan mengeluarkan cairan yang menyerupai karamel. Cairan serupa karamel itulah yang kemudian menghasilkan rasa dan aroma manis pada biji kopi.

Fase medium roast ini tidak sampai membuat lapisan kedua biji kopi mengelupas. Ketika disentuh tekstur biji kopinya terasa kental. Sementara tingkat kafeinnya sudah turun cukup signifikan dibanding fase light roast.

www.pexels.com

  • Dark Roast

Fase paling akhir dari proses roasting adalah dark roast. Pada tahap ini suhu yang digunakan sudah mencapai 240 derajat celsius dan lapisan kedua dari kulit biji kopi sudah mengelupas. Ketika sudah sampai pada tahap ini maka biji kopi akan memiliki warna coklat yang sangat gelap. Biji kopi yang sampai pada tahap dark roast ini sangat cocok bagi penggemar kopi dengan cita rasa pahit yang kental.

Setelah melalui semua tahap di atas, biji kopi siap untuk diolah menjadi kopi siap minum. Orang yang biasa mengolahnya disebut sebagai barista. Sebelum memesan kopi ada baiknya Anda mengetahui bahwa biji kopi terdiri dari 2 jenis danmasing-masing memiliki karakter rasa yang berbeda.

Jenis kopi yang pertama adalah robusta. Kopi jenis ini banyak dijumpai di Indonesia, Filipina, dan Kolombia. Rasa yang dihasilkan cenderung lebih pahit, menyerupai coklat. Tekstur biji kopinya juga lebih kasar dengan kandungan kafein yang lebih tinggi.

Jenis berikutnya adalah arabika. Contoh dari jenis arabika adalah kopi toraja. Kopi toraja dan kopi-kopi jenis arabika lainnya memiliki karakter rasa yang pahit cenderung asam. Kopi ini memiliki aroma yang lebih harum dan beragam dibanding kopi robusta. Kadar kafein dari kopi arabika juga cenderung lebih rendah.

Kopi memang minuman segala kalangan dan kerap menjadi minuman rutin banyak orang. Namun ingatlah bahwa konsumsi kopi berlebihan dapat meningkatkan detak jantung dan asam lambung. Sebaiknya Anda membatasi asupan kopi tak lebih dari 1 hingga 2 gelas per harinya. Waktu terbaik untuk menikmati kopi ialah pada pagi dan sore hari.

www.pexels.com